Pages

Friday, October 24, 2014

Filosofi truk sampah

Pernah dengar filosofi truk sampah? Sampai saat saya kelas 2 SMA tulisan tentang ini juga masih terasa asing di telinga, terbaur oleh filosofi kopi karangan penulis terkenal yang setiap bukunya menjadi best seller. Waktu itu pagi hari, pukul 7 pagi di salah satu ruang kelas SMA negeri di Jakarta. Pelajaran pagi ini dimulai dengan pengayaan motivasi ala-ala Mario Teguh. Biasanya kami memulai dengan membaca Al-Quran atau berdoa di kapel sesuai agama yang kami anut. Tapi hari ini, hari Senin yang tidak berupacara (upacara di SMA saya dilakukan 2 minggu sekali), kami diberikan secarik kertas yang berisi kata-kata atau cerita-cerita inspiratif yang diharapkan menggugah selera belajar para murid. Dan pada saat itu, saya tergugah oleh secarik tulisan tentang : "Filosofi Truk Sampah". 

"Suatu hari saya naik taksi menuju bandara, taksi yang kami naiki melaju pada jalur yang benar, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Sopir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa centi meter dari mobil tersebut. 
Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami sambil memaki-maki sopir taxi yang kami naiki. Sopir taxi hanya tersenyum, melambaikan tangan pada orang tersebut.
Saya benar-banar heran dengan sikap sopir taxi yang bersahabat. Maka saya bertanya,” mengapa Anda melakukan hal yang diluar dugaan yaitu tersenyum, melambaikan tangan dan mendoakan orang tersebut??? Sedangkan orang tersebut hampir merusak taxi Anda dan dapat saja mencelakakan nyawa kita!”. 
Saat sopir taxi menjawab itulah saya belajar dari sopir taxi tersebut mengenai apa yang kemudian saya sebut “filosofi truk sampah”.
Sopir taxi itu menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah, mereka berjalan keliling sambil membawa sampah, seperti : Frustasi, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kebencian dan banyak masalah lain, seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuang sampah itu kepada Anda. Jangan ambil hati, tersenyumlah, lambaikan tangan, doakan dan berkati mereka lalu lanjutkan hidup Anda. Jangan Ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya pada orang lain yang Anda temui baik ditempat kerja, dirumah atau dalam perjalanan. 
Orang sukses adalah mereka yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil hari-hari mereka dengan merusak suasana hati kita. Hidup itu 10% mengenai apa yang Anda buat dengannya dan 90% tentang bagaimana Anda menghadapinya.
Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan."

Tulisan yang sederhana, sangat sederhana. Dari sana saya belajar bahwa, kita boleh mengetahui sampah orang lain, tapi jangan ambil sampah itu. Kita adalah truk sampah bagi diri kita sendiri. Jangan buang sampah dijalan atau di tempat-tempat dimana sampah hanya akan mengganggu kehidupan sekitar. Jangan buang sampah kita di truk orang lain, karena orang lain akan membuangnya juga ke sekitarnya dan sekitarnya dan ke sekitarnya lagi. Tularkan kebaikan, abaikan sampah orang lain. Kita punya sampah kita masing-masing dan kita bertanggung jawab atas sampah yang kita buat sendiri.


lalu lanjutkan hidup Anda.
Fahmi Nur Amalia

No comments:

Post a Comment