Ini tulisan random banget -__-
Beberapa hari ini, ibu saya sering bertanya, "Mi, kamu ke jogja mau bawa apa?". Kemudian saya jawab singkat, "bawa mama aja cukup. Masukin ke kerdus indomie. Udah". Jawaban satir yang beberapa kali saya ulang karena ibu saya terus menerus nanyain mau bawa oleh-oleh apa.
Hari ini, tepatnya nanti malam, saya akan balik ke jogja. Melakukan aktivitas seperti biasanya, kuliah dan bosan. Aneh, saya merasakan homesick bahkan ketika masih dirumah. Seperti sekarang ini. That feeling when you can't describe. Ada seseorang disana berkata, perasaan itu tidak dapat dijelaskan, karena ketika dijelaskan akan mengkerdilkan perasaan itu sendiri. Misalnya ketika kalian menonton film yang sangat seru. Perasaan menyenangkan yang dapat ditularkan kepada orang lain hanya sebatas pada penjelasan yang kalian bicarakan. Padahal, keseruan itu lebih dari kata-kata yang kalian lontarkan. You're right dude! Dan ketika saya menjelaskan perasaan ini, percayalah, rasanya lebih dari itu.
Rumah mungkin bagi sebagian orang adalah hanya sebatas pada tempat tinggal. Rumah yang nyaman menurut orang-orang modern saat ini adalah yang luas, ber-AC, berperabot lengkap dan kriteria kenyamann fisik lainnya. Tapi bagi saya, mungkin ada yang setuju, rumah adalah tempat kita kembali tanpa harus terhakimi. Pasti kalian tau apa itu bahasa inggrisnya pulang. Yap, Go Home. Kenapa bukan Go House? Karena rumah lebih dari sekedar tempat tinggal. Rumah itu tempat kembali, pulang. Oleh karena itu setiap orang pasti berpulang ke rumah Allah (?).
"Home for me is where you are", adalah lirik sebuah lagu dari US yang berjudul Take me Home. Yes, rumah itu bukan bentuk fisik semata. Dalam kasus saya, dimana Ibu berada, maka itulah rumah. Karena ketika ada Ibu ada didekat saya, tiba-tiba seperti ada yang bernyanyi "Lights will guide you home, and ignite your bone, and I will try to fix you" haha lebay sih. Pada intinya adalah kenyaman hati, ketentraman, bebas, menjadi diri sendiri , belajar, salah, senang, sedih, maju, kecewa, jujur, itulah rumah, dan semuanya bisa saya dapatkan dari Ibu saya. Baru ibu saya. Jadi, apa yang selama ini saya sebut sebagai rumah adalah Ibu.
Setiap orang punya rumah nya masing-masing. Rumah adalah ibu, ayah, kakak, adik, kakek, nenek atau bahkan orang asing sekalipun yang tak ada hubungan darah. Orang-orang tempat kita berpulang tanpa harus berpikir panjang. Tanpa harus takut salah tentang apapun yang sudah diperbuat diluar sana. Tempat dimana kita bisa tidur nyenyak sebesar apapun masalah kita, dan dapat memeluk "rumahmu" dengan rasa bahagia. Buat apa punya tempat tinggal luas membentang dengan jendela-jendela berkusen biru yang besar, beribu-ribu kamar, tapi kamu tidak punya seorang pun tempat kamu berpulang?
Jika nanti saya diijinkan oleh Allah untuk berumah tangga, memiliki rumah beserta tangga-tangga kehidupannya, saya ingin menjadi rumah untuk orang-orang yang saya cintai. Saya ingin memiliki rumah dari orang-orang yang mencintai saya pula. Membangun keluarga kecil yang tidak pernah sekalipun merasa bosan dirumah, seberapapun panjangnya waktu liburan mereka. Kita akan bahagia, kecewa, sedih, tertawa, menangis, marah, kesal, dan berdebat sampai mati tentang hal-hal tak penting tapi menyenangkan. Kita akan lelah, berpeluh keringat, kesal di luar sana dan tau persis tempat kita kembali. Kemudian ketika sampai di rumah kita akan memberi salam, dan ada wajah-wajah menentramkan yang membukakan pintu :)
Ini adalah tulisan cengeng mahasiswa hampir tingkat tiga yang sudah 2 tahun tinggal di Jogja, long distance relationship dari rumahnya di Bekasi. Mahasiswa yang selalu homesick seperti anak SMA yang baru lulus UM UGM bulan Juli lalu. Kangen sama rumahnya, kangen sama Ibunya. Bahkan ketika masih di rumah, sudah terbayang gimana homesicknya kalau sudah balik ke Jogja. Kalau saja Ibu saya tak ada yang diurus, kalau saja ibu saya muat di dalam kerdus indomie, mungkin sudah sejak lama beliau saya paketkan bolak balik jogja-bekasi 2 hari sekali. Tapi sayang, beliau terlalu besar, dan saya terlalu banyak berkhayal.
Bekasi, 7 Agustus 2014
Fahmi Nur Amalia
No comments:
Post a Comment