Pages

Tuesday, May 27, 2025

Cinta pada sepotong daging

Pagi itu cukup terik. Aku dan kedua anakku dengan lahap menyantap sarapan olahan daging ayam berbalut tepung roti. Makanan beku itu memang sering kami santap di pagi hari, selain mudah dimasak juga enak. Demi memaksimalkan tumbuh kembang anak, di hari lain aku racik daging ayam hingga jadi beberapa varian makanan. Dengan tekad meminimalkan makanan kemasan, kubuat beberapa stok khusus sarapan. Namun, cerita ini bukan tentang resep daging olahan buatan ku.


Ayah (suamiku) jarang sekali sarapan. Kebiasannya makan hampir siang membuatku tak perlu terburu-buru memasak untuknya. Pagi menjelang siang itu, kuputuskan untuk membeli lauk pauk di warung bude. Wanita paruh baya asal Solo menjadi langgananku kala malas memasak. Masakannya cocok di lidah.


Aku tertarik membeli beberapa lauk. Ku beli mie jawa dan perkedel kentang. Kupikir, karena Ayah sarapan dan makan siangnya di “rapel”, pasti butuh asupan protein lebih. Maka ku beli sepotong daging rendang untuknya. Hanya sepotong? Iya khusus untuk nya. Makan siang untuk ku dan anak2 sudah dialokasikan dengan mie jawa dan menghabiskan nugget yang kugoreng tadi pagi. Ayah kurang suka nugget, jadi memang sepotong daging itu untuk pengganti proteinnya.


Jam 11 siang Ayah mulai makan. Aku masih repot  menggendong Adek yang mulai berat, jadi kurang memperhatikan lauk apa saja yang Ia makan. Bungkusan daging rendang belum dibuka.


“Ini apa? Buat aku,mi? Kok cuma satu?”, tanyanya

“Iya udah makan aja emang buat kamu”

“Engga ah, nanti kamu makan apa?”

“Masih ada nugget, gampang”

“Masa aku makan rendang sendirian, gak ah buat kamu aja”

“Makan aja yah, emang aku beliin buat kamu”


Perbincangan itu berakhir dengan sepotong daging rendang yang masih utuh. Ayah cuma mengambil bumbunya saja. Katanya, sepotong daging itu buat istrinya.


Ayah ini, tau betul istrinya gampang kelaparan dan butuh asupan banyak. Selain seabrek kerjaan rumah, Ia menyadari bahwa menyusui itu memerlukan asupan yang berlebih. Pikirnya mungkin sepotong rendang itu lebih pas apabila dimakan aku yang sering darah rendah ini. 


Cerita ini memang tak ada romantis-romantisnya. Karena kamipun menjalani hari-hari dengan biasanya saja. Namun kusadari, dua orang mencinta ini sedang memberikan yang terbaik buat pasangannya melalui sepotong daging rendang. Dari istri yang mengusahakan makanan enak dan bergizi tersaji di meja, dan suami yang memprioritaskan keluarga lebih dari dirinya sendiri.


Salam sayang,

Ami

Friday, October 24, 2014

Filosofi truk sampah

Pernah dengar filosofi truk sampah? Sampai saat saya kelas 2 SMA tulisan tentang ini juga masih terasa asing di telinga, terbaur oleh filosofi kopi karangan penulis terkenal yang setiap bukunya menjadi best seller. Waktu itu pagi hari, pukul 7 pagi di salah satu ruang kelas SMA negeri di Jakarta. Pelajaran pagi ini dimulai dengan pengayaan motivasi ala-ala Mario Teguh. Biasanya kami memulai dengan membaca Al-Quran atau berdoa di kapel sesuai agama yang kami anut. Tapi hari ini, hari Senin yang tidak berupacara (upacara di SMA saya dilakukan 2 minggu sekali), kami diberikan secarik kertas yang berisi kata-kata atau cerita-cerita inspiratif yang diharapkan menggugah selera belajar para murid. Dan pada saat itu, saya tergugah oleh secarik tulisan tentang : "Filosofi Truk Sampah". 

"Suatu hari saya naik taksi menuju bandara, taksi yang kami naiki melaju pada jalur yang benar, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Sopir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa centi meter dari mobil tersebut. 
Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami sambil memaki-maki sopir taxi yang kami naiki. Sopir taxi hanya tersenyum, melambaikan tangan pada orang tersebut.
Saya benar-banar heran dengan sikap sopir taxi yang bersahabat. Maka saya bertanya,” mengapa Anda melakukan hal yang diluar dugaan yaitu tersenyum, melambaikan tangan dan mendoakan orang tersebut??? Sedangkan orang tersebut hampir merusak taxi Anda dan dapat saja mencelakakan nyawa kita!”. 
Saat sopir taxi menjawab itulah saya belajar dari sopir taxi tersebut mengenai apa yang kemudian saya sebut “filosofi truk sampah”.
Sopir taxi itu menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah, mereka berjalan keliling sambil membawa sampah, seperti : Frustasi, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kebencian dan banyak masalah lain, seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuang sampah itu kepada Anda. Jangan ambil hati, tersenyumlah, lambaikan tangan, doakan dan berkati mereka lalu lanjutkan hidup Anda. Jangan Ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya pada orang lain yang Anda temui baik ditempat kerja, dirumah atau dalam perjalanan. 
Orang sukses adalah mereka yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil hari-hari mereka dengan merusak suasana hati kita. Hidup itu 10% mengenai apa yang Anda buat dengannya dan 90% tentang bagaimana Anda menghadapinya.
Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan."

Tulisan yang sederhana, sangat sederhana. Dari sana saya belajar bahwa, kita boleh mengetahui sampah orang lain, tapi jangan ambil sampah itu. Kita adalah truk sampah bagi diri kita sendiri. Jangan buang sampah dijalan atau di tempat-tempat dimana sampah hanya akan mengganggu kehidupan sekitar. Jangan buang sampah kita di truk orang lain, karena orang lain akan membuangnya juga ke sekitarnya dan sekitarnya dan ke sekitarnya lagi. Tularkan kebaikan, abaikan sampah orang lain. Kita punya sampah kita masing-masing dan kita bertanggung jawab atas sampah yang kita buat sendiri.


lalu lanjutkan hidup Anda.
Fahmi Nur Amalia

Thursday, August 7, 2014

Homesick :(

Ini tulisan random banget -__-

Beberapa hari ini, ibu saya sering bertanya, "Mi, kamu ke jogja mau bawa apa?". Kemudian saya jawab singkat, "bawa mama aja cukup. Masukin ke kerdus indomie. Udah". Jawaban satir yang beberapa kali saya ulang karena ibu saya terus menerus nanyain mau bawa oleh-oleh apa. 

Hari ini, tepatnya nanti malam, saya akan balik ke jogja. Melakukan aktivitas seperti biasanya, kuliah dan bosan. Aneh, saya merasakan homesick bahkan ketika masih dirumah. Seperti sekarang ini. That feeling when you can't describe. Ada seseorang disana berkata, perasaan itu tidak dapat dijelaskan, karena ketika dijelaskan akan mengkerdilkan perasaan itu sendiri. Misalnya ketika kalian menonton film yang sangat seru. Perasaan menyenangkan yang dapat ditularkan kepada orang lain hanya sebatas pada penjelasan yang kalian bicarakan. Padahal, keseruan itu lebih dari kata-kata yang kalian lontarkan. You're right dude! Dan ketika saya menjelaskan perasaan ini, percayalah, rasanya lebih dari itu.

Rumah mungkin bagi sebagian orang adalah hanya sebatas pada tempat tinggal. Rumah yang nyaman menurut orang-orang modern saat ini adalah yang luas, ber-AC, berperabot lengkap dan kriteria kenyamann fisik lainnya. Tapi bagi saya, mungkin ada yang setuju, rumah adalah tempat kita kembali tanpa harus terhakimi. Pasti kalian tau apa itu bahasa inggrisnya pulang. Yap, Go Home. Kenapa bukan Go House? Karena rumah lebih dari sekedar tempat tinggal. Rumah itu tempat kembali, pulang. Oleh karena itu setiap orang pasti berpulang ke rumah Allah (?).

"Home for me is where you are", adalah lirik sebuah lagu dari US yang berjudul Take me Home. Yes, rumah itu bukan bentuk fisik semata. Dalam kasus saya, dimana Ibu berada, maka itulah rumah. Karena ketika ada Ibu ada didekat saya, tiba-tiba seperti ada yang bernyanyi "Lights will guide you home, and ignite your bone, and I will try to fix you" haha lebay sih. Pada intinya adalah kenyaman hati, ketentraman, bebas, menjadi diri sendiri , belajar, salah, senang, sedih, maju, kecewa, jujur, itulah rumah, dan semuanya bisa saya dapatkan dari Ibu saya. Baru ibu saya. Jadi, apa yang selama ini saya sebut sebagai rumah adalah Ibu. 

Setiap orang punya rumah nya masing-masing. Rumah adalah ibu, ayah, kakak, adik, kakek, nenek atau bahkan orang asing sekalipun yang tak ada hubungan darah. Orang-orang tempat kita berpulang tanpa harus berpikir panjang. Tanpa harus takut salah tentang apapun yang sudah diperbuat diluar sana. Tempat dimana kita bisa tidur nyenyak sebesar apapun masalah kita, dan dapat memeluk "rumahmu" dengan rasa bahagia. Buat apa punya tempat tinggal luas membentang dengan jendela-jendela berkusen biru yang besar, beribu-ribu kamar, tapi kamu tidak punya seorang pun tempat kamu berpulang?

Jika nanti saya diijinkan oleh Allah untuk berumah tangga, memiliki rumah beserta tangga-tangga kehidupannya, saya ingin menjadi rumah untuk orang-orang yang saya cintai. Saya ingin memiliki rumah dari orang-orang yang mencintai saya pula. Membangun keluarga kecil yang tidak pernah sekalipun merasa bosan dirumah, seberapapun panjangnya waktu liburan mereka. Kita akan bahagia, kecewa, sedih, tertawa, menangis, marah, kesal, dan berdebat sampai mati tentang hal-hal tak penting tapi menyenangkan. Kita akan lelah, berpeluh keringat, kesal di luar sana dan tau persis tempat kita kembali. Kemudian ketika sampai di rumah kita akan memberi salam, dan ada wajah-wajah menentramkan yang membukakan pintu :)

Ini adalah tulisan cengeng mahasiswa hampir tingkat tiga yang sudah 2 tahun tinggal di Jogja, long distance relationship dari rumahnya di Bekasi. Mahasiswa yang selalu homesick seperti anak SMA yang baru lulus UM UGM bulan Juli lalu. Kangen sama rumahnya, kangen sama Ibunya. Bahkan ketika masih di rumah, sudah terbayang gimana homesicknya kalau sudah balik ke Jogja.  Kalau saja Ibu saya tak ada yang diurus, kalau saja ibu saya muat di dalam kerdus indomie, mungkin sudah sejak lama beliau saya paketkan bolak balik jogja-bekasi 2 hari sekali. Tapi sayang, beliau terlalu besar, dan saya terlalu banyak berkhayal.



Bekasi, 7 Agustus 2014
Fahmi Nur Amalia