Pagi itu cukup terik. Aku dan kedua anakku dengan lahap menyantap sarapan olahan daging ayam berbalut tepung roti. Makanan beku itu memang sering kami santap di pagi hari, selain mudah dimasak juga enak. Demi memaksimalkan tumbuh kembang anak, di hari lain aku racik daging ayam hingga jadi beberapa varian makanan. Dengan tekad meminimalkan makanan kemasan, kubuat beberapa stok khusus sarapan. Namun, cerita ini bukan tentang resep daging olahan buatan ku.
Ayah (suamiku) jarang sekali sarapan. Kebiasannya makan hampir siang membuatku tak perlu terburu-buru memasak untuknya. Pagi menjelang siang itu, kuputuskan untuk membeli lauk pauk di warung bude. Wanita paruh baya asal Solo menjadi langgananku kala malas memasak. Masakannya cocok di lidah.
Aku tertarik membeli beberapa lauk. Ku beli mie jawa dan perkedel kentang. Kupikir, karena Ayah sarapan dan makan siangnya di “rapel”, pasti butuh asupan protein lebih. Maka ku beli sepotong daging rendang untuknya. Hanya sepotong? Iya khusus untuk nya. Makan siang untuk ku dan anak2 sudah dialokasikan dengan mie jawa dan menghabiskan nugget yang kugoreng tadi pagi. Ayah kurang suka nugget, jadi memang sepotong daging itu untuk pengganti proteinnya.
Jam 11 siang Ayah mulai makan. Aku masih repot menggendong Adek yang mulai berat, jadi kurang memperhatikan lauk apa saja yang Ia makan. Bungkusan daging rendang belum dibuka.
“Ini apa? Buat aku,mi? Kok cuma satu?”, tanyanya
“Iya udah makan aja emang buat kamu”
“Engga ah, nanti kamu makan apa?”
“Masih ada nugget, gampang”
“Masa aku makan rendang sendirian, gak ah buat kamu aja”
“Makan aja yah, emang aku beliin buat kamu”
Perbincangan itu berakhir dengan sepotong daging rendang yang masih utuh. Ayah cuma mengambil bumbunya saja. Katanya, sepotong daging itu buat istrinya.
Ayah ini, tau betul istrinya gampang kelaparan dan butuh asupan banyak. Selain seabrek kerjaan rumah, Ia menyadari bahwa menyusui itu memerlukan asupan yang berlebih. Pikirnya mungkin sepotong rendang itu lebih pas apabila dimakan aku yang sering darah rendah ini.
Cerita ini memang tak ada romantis-romantisnya. Karena kamipun menjalani hari-hari dengan biasanya saja. Namun kusadari, dua orang mencinta ini sedang memberikan yang terbaik buat pasangannya melalui sepotong daging rendang. Dari istri yang mengusahakan makanan enak dan bergizi tersaji di meja, dan suami yang memprioritaskan keluarga lebih dari dirinya sendiri.
Salam sayang,
Ami